Jumat, 22 April 2016

Walaupun Gagal Panen, Merti Dusun Tetap Berlangsung



Foto: Pentas Wayang Kulit dan Gejok Lesung, dalam Puncak Upacara Adat Merti Dusun di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden, Bantul, DIY. (10/04/2016)
Jarum jam baru menunjuk 20.30 WIB, sayup-sayup terdengar  irama gamelan mengalun gending-gending Jawa, bagaikan ombak air di lautan bergerak mengikuti  musik gamelan bertalu-talu membentuk atmosfir pertunjukan wayang kulit lebih hidup.    
          Itulah pertunjukan wayang kulit untuk puncak upacara tradisi merti dusun di Karanganyar, Gadingharjo,  Sanden, Bantul, DIY, Minggu malam-Senin shubuh (10-11/4), dengan dalang Ki Totok Hadi Sugito asal Wates Kulon Progo membawakan lakon Kala Gumarang. Dusun Karanganyar terdiri dari 391 kepala keluarga ini masih kental dengan tradisi dan adat lokalnya warisan leluhurnya.  Malam itu juga dipentaskan “Tari Gejok Lesung Mengusir Hama Wereng Padi”.
         Menurut Kepala Dusun Karanganyar Trisno Atmojo,  tradisi merti dusun telah puluhan tahun  bahkan diperkirakan setengah abad lebih sampai sekarang masih dilestarikan dan diakhiri pertunjukan wayang kulit.
       “Hanya untuk pentas tari gejok lesung mengusir hama wereng padi.  Baru kali pertama dipentaskan yang merupakan simbol puluhan hektar tanaman padi rendengan gadu diserang hama wereng. Untuk mengusir hama tersebut dengan visualisasi gerakan dan hentakan irama musik gejok lesung dipadukan gamelan. Penari dan perawitnya adalah para ibu dan bapak setengah baya sebanyak  24 orang, dua di antaranya bapak,” jelasnya.
         Kegiatan tradisi merti dusun, lanjut Trisno,  diadakan tiap tahun sekali pasca panen padi rendengan gadu sebagai lambang perwujudan syukur Sang Maha Pencipta atas segala berkah, limpahan rejeki, dan perlindungan-Nya. Tradisi ini diawali dengan bersih dusun secara gotong-royong dan dilanjutkan bersih kubur.
        “Malam hari sebelum acara puncak digelar doa bersama membaca Surat Yaasiin Tahil dan siang harinya adalah kenduri wilujengan (shodaqah doa keselamatan) yang dihadiri seluruh kepala keluarga dan malamnya pertunjukan wayang kulit,” ujarnya.
           Meski panen padi rendengan gadu tahun ini, tambah Kepala Dusun Karanganyar, produksi dan produktivitasnya turun cukup daratis antara 40-65 persen, bahkan ada yang gagal panen akibat terjadi serangan wereng  padi yang ganas.
           “Namun warganya tetap semangat mengaktualisasikan serta melestarikan merti dusun sebagai nilai-nilai budaya adilulung. Semangat aktualisasinya berupa golong gilig, sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Apalagi pertunjukan dibantu dana dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata lewat anggota Fraksi Nasional Demokrat DPRD Bantul Sapto Saroso, sehingga warganya bertambah semangat,” jelasnya.
        Dalam pertunjukan wayang kulit ini  anggota DPRD tersebut juga  menegaskan, merti dusun merupakan salah satu  bagian dari sekian banyak tradisi dan budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat sebagai sarana berdoa kepada Tuhan.
  

 “Dapat juga sebagai simbol dan media doa bersama untuk megusir hama wereng,” Kata Sapto sembari menambahkan, apapun bentuknya tradisi karena adat kebudayaan termasuk pertunjukan wayang kulit ini harus dilestarikan.  Jangan sampai adat kebudayaan yang ada makin tergerus dan terdesak perubahan zaman, tapi adat kebudayaan harus dijaga. 

Tari Gejok Lesung, Simbol Mengusir Wereng


Pentas tari gejok lesung mengusir hama wereng padi rangkaian upacara merti desa di Dusun Karanganyar, Desa Gadingharjo, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY. (10/04/2016)


       Ketika empat penari ibu setengah baya berpakaian Jawa dan dua bapak dengan pakaian sorjan sambil jejogetan dan bernyanyi menuju ke depan panggung membuat formasi garis lurus, lingkaran, berbaris, dan lain-lain. Nyanyian mereka itu dengan tembang Jawa :  Lumbung desa pratani pada makaryo, ayo caa. Njupuk pari nata lesung nyandak alu, ayo yu. Pada nutu yen wis rampung nuli adang,  ayo kang. Dhatumandhang nosoh beras ana lumpang.
         Itulah visualisasi  pentas  “Tari Gejok Lesung Pengusir Hama Wereng Padi” untuk mengawali malam pertunjukan wayang kulit puncak upacara “Tradisi Merti Desa” di Dusun Karanganyar, Desa Gadingharjo, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY, Minggu malam-Senin shubuh (10-11/4). Di rumah Kepala Dusun setempat Trisno Atmojo malam hingga pagi itu tampak meriah bagaikan nuansa kota penuh pancaran sinar lampu.
      Begitu irama musik gejok lesung (tempat penumbuk padi terbuat dari kayu) dipadukan dengan gamelan bertalu-talu menyentuh kalbu.  Satu persatu penari pun keluar sambil joget tempo lambat ditata dengan rapi itu membuat mereka saling terikat satu sama lainnya, sehingga membuat satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. 
       Apabila salah seorang penari keluar dari formasi  tersebut, kesatuannya rusak, penari bercerai-berai dan dari sana seakan-akan terdengar suara keras yang menggambarkan hilangnya bagian-bagian dari kala gumarang   (mengeja wantah wereng)  disapu angin akibat putus dari induk inag padi.
         Dalam pertunjukan tersebut, Trisno Atmojo, pencetus tari gejok lesung ini menjelaskan, kalau diresapi terjadi ketegangan yang luar biasa antara emosional dan rasional. Ketegangan itu terjadi akibat alunan suara gejok lesung dipadukan gamelan yang membuat emosional (lagu sedih) dikawinkan dengan gerak tari yang bergerak dalam tempo lambat dengan formasi teratur (rasional), bagaikan ombak air di lautan bergerak mengikuti irama lagu Jawa gejok lesung yang membentuk atmosfir pertunjukan yang indah sekali.
          Pertunjukan tari gejok lesung ini, baru kali pertama digelar untuk rangkaian puncak tradisi merti dusun, penari dan pemusik lesung serta pemusik gamelan melibatkan 12 orang ibu dan lima orang bapak setengah baya yang menggambarkan petani menanam padi, ketika padi berumur  60 hari tiba-tiba diserang hama wereng akibatnya gagal panen, kami merasa trenyuh ketika menyaksikan tari gejok lesung kreasinya.
     “Penari ibu setengah baya itu menceritakan kisah Dewi Sri yang melambangkan dewi kesuburan. Emosi pribadi masing-masing penari disatukan sehingga membentuk satu kesatuan simbol yang mengantarkan berhubungan dengan kosmos. Inilah simbol petani mengusir hama wereng padi yang disapu dengan suara irama musik,”   ujar lelaki duda yang juga Kepala Dukuh setempat.  
        Selain tari gejok lesung malam itu, lanjut Trisno, puncak tradisi merti dusun adalah pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Totok Hadi Sugito, mengambil lakon Kala Gumarang. Tradisi ini diawali bersih dusun secara gotong-royong dan kenduri yang dihadiri seluruh kepala keluarga tiap tahun sekali pasca panen padi rendengan gadu  sebagai lambang perwujudan syukur Sang Maha Pencipta atas segala berkah, limpahan rejeki, dan perlindungan-Nya.
      “Meski panen padi rendengan gadu tahun ini, produksi dan produktivitasnya turun cukup darastis antara 40-65 persen, bahkan ada yang gagal panen akibat terjadi serangan wereng yang ganas. Namun merti dusun tetap jalan karena sudah menjadi tradisi budaya warisan leluhur cikal bakal Karanganyar,” ujarnya.