Pentas tari gejok lesung mengusir hama wereng padi rangkaian upacara merti desa di Dusun Karanganyar, Desa Gadingharjo, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY. (10/04/2016)
Ketika empat penari ibu setengah baya berpakaian Jawa dan dua bapak
dengan pakaian sorjan sambil jejogetan dan bernyanyi menuju ke depan panggung
membuat formasi garis lurus, lingkaran, berbaris, dan lain-lain. Nyanyian
mereka itu dengan tembang Jawa : Lumbung
desa pratani pada makaryo, ayo caa. Njupuk pari nata lesung nyandak alu, ayo
yu. Pada nutu yen wis rampung nuli adang,
ayo kang. Dhatumandhang nosoh beras ana lumpang.
Itulah visualisasi pentas “Tari Gejok Lesung Pengusir Hama Wereng Padi”
untuk mengawali malam pertunjukan wayang kulit puncak upacara “Tradisi Merti
Desa” di Dusun Karanganyar, Desa Gadingharjo, Kecamatan Sanden, Kabupaten
Bantul, DIY, Minggu malam-Senin shubuh (10-11/4). Di rumah Kepala Dusun
setempat Trisno Atmojo malam hingga pagi itu tampak meriah bagaikan nuansa kota
penuh pancaran sinar lampu.
Begitu irama musik gejok lesung (tempat penumbuk padi terbuat
dari kayu) dipadukan dengan gamelan bertalu-talu menyentuh kalbu. Satu persatu penari pun keluar sambil joget tempo
lambat ditata dengan rapi itu membuat mereka saling terikat satu sama lainnya,
sehingga membuat satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Apabila salah seorang penari keluar dari formasi tersebut, kesatuannya rusak, penari
bercerai-berai dan dari sana seakan-akan terdengar suara keras yang
menggambarkan hilangnya bagian-bagian dari kala gumarang (mengeja wantah wereng) disapu angin akibat putus dari induk inag
padi.
Dalam pertunjukan tersebut, Trisno Atmojo, pencetus tari gejok lesung
ini menjelaskan, kalau diresapi terjadi ketegangan yang luar biasa antara
emosional dan rasional. Ketegangan itu terjadi akibat alunan suara gejok lesung
dipadukan gamelan yang membuat emosional (lagu sedih) dikawinkan dengan gerak
tari yang bergerak dalam tempo lambat dengan formasi teratur (rasional),
bagaikan ombak air di lautan bergerak mengikuti irama lagu Jawa gejok lesung
yang membentuk atmosfir pertunjukan yang indah sekali.
Pertunjukan tari gejok lesung ini, baru kali pertama digelar untuk
rangkaian puncak tradisi merti dusun, penari dan pemusik lesung serta pemusik
gamelan melibatkan 12 orang ibu dan lima orang bapak setengah baya yang
menggambarkan petani menanam padi, ketika padi berumur 60 hari tiba-tiba diserang hama wereng akibatnya
gagal panen, kami merasa trenyuh ketika menyaksikan tari gejok lesung
kreasinya.
“Penari ibu setengah baya itu menceritakan kisah Dewi Sri yang
melambangkan dewi kesuburan. Emosi pribadi masing-masing penari disatukan
sehingga membentuk satu kesatuan simbol yang mengantarkan berhubungan dengan
kosmos. Inilah simbol petani mengusir hama wereng padi yang disapu dengan suara
irama musik,” ujar lelaki duda yang
juga Kepala Dukuh setempat.
Selain tari gejok lesung malam itu, lanjut Trisno, puncak tradisi merti
dusun adalah pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Totok
Hadi Sugito, mengambil lakon Kala Gumarang. Tradisi ini diawali bersih dusun
secara gotong-royong dan kenduri yang dihadiri seluruh kepala keluarga tiap tahun
sekali pasca panen padi rendengan gadu
sebagai lambang perwujudan syukur Sang Maha Pencipta atas segala berkah,
limpahan rejeki, dan perlindungan-Nya.
“Meski panen padi rendengan gadu tahun ini, produksi dan
produktivitasnya turun cukup darastis antara 40-65 persen, bahkan ada yang
gagal panen akibat terjadi serangan wereng yang ganas. Namun merti dusun tetap
jalan karena sudah menjadi tradisi budaya warisan leluhur cikal bakal
Karanganyar,” ujarnya.






0 komentar:
Posting Komentar