Foto: Pentas Wayang Kulit dan Gejok Lesung, dalam Puncak Upacara Adat Merti Dusun di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden, Bantul, DIY. (10/04/2016)
Jarum jam baru menunjuk 20.30 WIB, sayup-sayup
terdengar irama gamelan mengalun
gending-gending Jawa, bagaikan ombak air di lautan bergerak mengikuti musik gamelan bertalu-talu membentuk atmosfir
pertunjukan wayang kulit lebih hidup.
Itulah pertunjukan wayang kulit untuk puncak upacara tradisi merti dusun
di Karanganyar, Gadingharjo, Sanden,
Bantul, DIY, Minggu malam-Senin shubuh (10-11/4), dengan dalang Ki Totok Hadi
Sugito asal Wates Kulon Progo membawakan lakon Kala Gumarang. Dusun Karanganyar
terdiri dari 391 kepala keluarga ini masih kental dengan tradisi dan adat
lokalnya warisan leluhurnya. Malam itu
juga dipentaskan “Tari Gejok Lesung Mengusir Hama Wereng Padi”.
Menurut Kepala Dusun Karanganyar Trisno Atmojo, tradisi merti dusun telah puluhan tahun bahkan diperkirakan setengah abad lebih sampai
sekarang masih dilestarikan dan diakhiri pertunjukan wayang kulit.
“Hanya
untuk pentas tari gejok lesung mengusir hama wereng padi. Baru kali pertama dipentaskan yang merupakan
simbol puluhan hektar tanaman padi rendengan gadu diserang hama wereng.
Untuk mengusir hama tersebut dengan visualisasi gerakan dan hentakan irama
musik gejok lesung dipadukan gamelan. Penari dan perawitnya adalah para ibu dan
bapak setengah baya sebanyak 24 orang,
dua di antaranya bapak,” jelasnya.
Kegiatan
tradisi merti dusun, lanjut Trisno, diadakan tiap tahun sekali pasca panen padi rendengan
gadu sebagai lambang perwujudan syukur Sang Maha Pencipta atas segala
berkah, limpahan rejeki, dan perlindungan-Nya. Tradisi ini diawali dengan
bersih dusun secara gotong-royong dan dilanjutkan bersih kubur.
“Malam
hari sebelum acara puncak digelar doa bersama membaca Surat Yaasiin Tahil dan
siang harinya adalah kenduri wilujengan (shodaqah doa keselamatan) yang
dihadiri seluruh kepala keluarga dan malamnya pertunjukan wayang kulit,”
ujarnya.
Meski panen padi rendengan gadu tahun ini, tambah Kepala Dusun
Karanganyar, produksi dan produktivitasnya turun cukup daratis antara 40-65
persen, bahkan ada yang gagal panen akibat terjadi serangan wereng padi yang ganas.
“Namun warganya tetap semangat mengaktualisasikan serta melestarikan
merti dusun sebagai nilai-nilai budaya adilulung. Semangat aktualisasinya
berupa golong gilig, sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Apalagi
pertunjukan dibantu dana dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata lewat anggota
Fraksi Nasional Demokrat DPRD Bantul Sapto Saroso, sehingga warganya
bertambah semangat,” jelasnya.
Dalam pertunjukan wayang kulit ini
anggota DPRD tersebut juga
menegaskan, merti dusun merupakan salah satu bagian dari sekian banyak tradisi dan budaya
yang mengakar dalam kehidupan masyarakat sebagai sarana berdoa kepada Tuhan.
“Dapat
juga sebagai simbol dan media doa bersama untuk megusir hama wereng,” Kata
Sapto sembari menambahkan, apapun bentuknya tradisi karena adat kebudayaan
termasuk pertunjukan wayang kulit ini harus dilestarikan. Jangan sampai adat kebudayaan yang ada makin
tergerus dan terdesak perubahan zaman, tapi adat kebudayaan harus dijaga.






0 komentar:
Posting Komentar